Senin, 10 Oktober 2011

Memengaruhi sikap dan perilaku


Memengaruhi sikap dan perilaku
1.1  Latar Belakang
Budaya merupakan konsep yang meliputi banyak hal (luas). Hal tersebut termasuk segala sesuatu dari pengaruh proses pemikiran individu dan perilakunya. Ketika budaya tidak menentukan sifat dasar dari frekuensi pada dorongan biologis seperti lapar atau seks, hal tersebut berpengaruh jika, kapan, dan bagaimana dorongan ini akan memberi kepuasan.
Budaya adalah hal yang diperoleh. Ia nya tidak dimasukkan mewarisi respon dan kecenderungan. Bagaimanapun, semenjak perilaku manusia dari perilaku. Kerumitan dari masyarakat modern merupakan kesungguhan dimana budaya jarang memberikan ketentuan yang terperinci atas perilaku yang tepat.
Budaya terutama dijalankan oleh keadaan yang batasannya cukup bebas pada perilaku individu dan oleh pengaruh fungsinya dari institusi seperti keluarga dan media massa. Kemudian, budaya memberikan kerangka dalam yang mana individu dan rumah tanga gaya hidup menyusun. Batasan dimana perangkat budaya dalam perilaku disebut norma, yang merupakan aturan sederhana dimana menentukan atau melarang beberapa perilaku dalam situasi yang spesifik. Norma dijalankan dari nilai budaya. Dimana nilai budaya adalah kepercayaan yang dipertahankan dimana menguatkan apa yang diinginkan. Pelanggaran dari norma budaya berakhir dengan sangsi yang merupakan hukuman dari pencelaan sosial yang ringan untuk dibuang dari kelompok.

          1.2      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kebudayaan mempengaruhi pembelian dan konsumsi seseorang. Untuk mengetahui apakah teori yang diterima oleh pemasar selama ini sesuai dengan pembelian dan konsumsi masyarakat.

Bab Pembahasan

1. Mempengaruhi sikap dan perilaku

Untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan bantuan berbagai macam ilmu pengetahuan. Ilmu fisiologi, mempelajari tingkah laku manusia, dengan menitik beratkan sifat-sifat yang khas dari organ-organ dan sel-sel yang ada dalam tubuh. Sedangkan sosiologi, mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku dan perbuatan manusia dengan menitik beratkan pada masyarakat dan kelompok sosial sebagai satu kesatuan, dan melihat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat ( keluarga, kelompok sosial, kerabat, clan, suku, ras, bangsa). Di antara dua kelompok ilmu pengetahuan ini berdiri psikologi, yang membidangi individu dengan segala bentuk aktivitasnya, perbuatan, perilaku dan kerja selama hidupnya (Kartini, K., 1980). Selanjutnya Kartini menyatakan, bahwa fisiologi memberikan penjelasan mengenai macam-macam tingkah laku lahiriah, yang sifatnya jasmani. Sedangkan manusia merupakan satu totalitas jasmani-rohani. Psikologi mempelajari bentuk tingkah laku (perbuatan, aktivitas) individu dalam relasinya dengan lingkungannya.
Dari pemahaman diatas, terlihat bahwa betapa mempelajari sikap dan perilaku manusia sangat penting, agar tercipta hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya.

2. Faktor-faktor lingkungan terhadap perkembangan emosi

Manusia mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keadaan mental maupun emosionil dari seorang ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangan anak yang dikandungnya. Keadaan tegangan yang akut maupun kronis dapat merambat melalui sistem hormonal ke plasenta. Efek ini dapat bersifat sementara, tetapi mungkin juga mempunyai pengaruh yang lama (Anna, Sidharta, Brouwer, 1980).
Mengapa orang tua sering menganjurkan agar wanita hamil megusahakan ketenangan, dengan lebih banyak berdoa dan sholat, hal ini dimaksudkan agar sang bayi lahir selamat dan menjadi anak yang baik dalam kehidupan selanjutnya. Banyak juga yang mulai melatih diri dengan mendengarkan musik, dan wanita hamil harus selalu rajin membersihkan badan, yang hal-hal ini dipercaya dapat mempengaruhi sifat/karakteristik bayi nantinya.
Sampai dengan anak beranjak dewasa, orangtua tetap harus dapat memberikan pendampingan dan ketenangan pada anak, karena secara langsung anak akan belajar dari orang tua, bagaimana orangtua menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketenangan orangtua dalam menyelesaikan masalah akan mengesankan si anak, dan kemudian si anak akan mencoba melakukan hal yang sama jika menghadapi masalah serupa.
Dari sekeliling kita, dapat dilihat bahwa anak-anak yang dibesarkan dari ayah ibu yang penuh kasih sayang, akan menjadi anak yang lebih baik dari kematangan emosi, dibanding dengan anak yang dibesarkan dari keluarga berantakan.
Apakah pendidikan dan faktor lingkungan dapat memperbaiki tingkah laku?
Jawabannya adalah ya, karena apabila sejak anak dalam kandungan orangtua telah berperilaku baik, dilanjutkan dengan pendidikan yang sesuai, serta mempunyai pengaruh lingkungan yang baik, maka diharapkan si anak akan nyaman berada pada pengaruh faktor lingkungan yang baik ini. Faktor lingkungan apa yang baik? Hal ini bisa diperdebatkan. Dalam suatu diskusi dengan seorang teman, dia menyatakan bahwa anaknya berperilaku baik, santun, namun menurutnya anaknya terlalu steril. Mengapa demikian? Karena sejak lahir, si anak tumbuh dalam lingkungan kompleks perumahan yang dijaga satpam 24 jam, karena orangtuanya mendapatkan fasilitas rumah dinas. Hal ini berbeda dengan si ayah, yang merupakan ”anak kolong”. Si ayah berani memanjat, mendapat banyak luka di kaki dan tangan….sedang si anak kulitnya mulus, walaupun anak tersebut tidak ada celanya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sifat dan perilaku anak.

3. Apakah faktor genetik mempengaruhi tingkah laku?
a. Faktor genetik mempengaruhi beberapa karakteristik sifat anak.
Misalkan ayah (AaBb) menikah dengan ibu (XxYy)
A = tinggi ; a = besar ; B=berambut hitam lurus ; b = kulit kuning langsat
X = sedang; x = mungil ;Y= berambut ikal ; y = kulit sawo matang
Apabila ayah dan ibu dengan karakteristik di atas menikah, maka peluang anak yang akan dilahirkan mempunyai berbagai karakteristik/sifat, yang merupakan paduan karakteristik/sifat ayah dan ibu tersebut.
Misalkan:
Anak ke-1 : berbadan tinggi, besar, berkulit sawo matang dan berambut ikal.
Anak ke-2 : berbadan sedang, mungil, berambut hitam lurus, berkulit sawo matang.
A dan B akan menghasilkan 16 macam peluang sifat, yang merupakan perpaduan dari AaBb dan XxYy.
Dari tulisan Beben, B (2007), penelitian di bidang genetika saat ini tidak hanya tentang sejauh mana faktor genetik mempengaruhi tingkah laku tertentu, tetapi sudah sampai pada tahap identifikasi gen-gen yang mempengaruhinya. Selanjutnya Beben menjelaskan bahwa, bukan hanya masalah kecerdasan (IQ), tingkah laku atau sifat-sifat lainnya juga ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, seperti: kepribadian, kecanduan terhadap alkohol, neurotism/ketidakstabilan mental, penyakit kejiwaan (alzheimer, schizoprenia), dan lain-lain, yang hampir semuanya dipengaruhi oleh susunan DNA. Hasil penelitian terhadap tingkah laku selain dipengaruhi oleh lingkungan, juga dipengaruhi oleh faktor genetis.
Beben juga menjelaskaan, untuk mengukur sejauh mana faktor genetik mempengaruhi suatu sifat, ahli genetika menggunakan konsep heritabilitas, suatu besaran untuk menduga sejauh mana variasi/perbedaan antar individu pada suatu sifat tertentu dipengaruhi oleh faktor genetik. Faktor-faktor selain faktor genetik biasanya disebut faktor lingkungan. Hal ini termasuk kondisi selama dalam kandungan (pre natal, lingkungan keluarga, nutrisi, pendidikan, kelas sosial, pergaulan dan lain-lain.
Penting untuk dicamkan, bahwa konsep heritabilitas ini adalah properti suatu sifat/karakter dalam suatu populasi, bukan pada seorang individu. Jadi, heritabilitas ini tidak bisa dipakai untuk memprediksi pengaruh genetik pada seorang individu, melainkan memprediksi perbedaan antar individu pada suatu populasi.
Hasil penelitian diberbagai jurnal ilmiah, seperti American Journal of Human Genetics, Behavior Genetics dan Twin Research and Human Genetics menyimpulkan bahwa antara 30-60% variasi pada berbagai tingkah laku manusia dipengaruhi oleh faktor genetik. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keturunan hampir sama pentingnya dengan faktor lingkungan dalam mempengaruhi berbagai karakteristik manusia (Beben, 2007).
Beben B., juga menyatakan bahwa, untuk perkembangan ilmu pengetahuan, tujuan utama dari penelitian genetika tingkah laku adalah identifikasi gen-gen yang membuat berbagai karakteristik/sifat manusia. Apabila gen-gen yang mempengaruhi berbagai kelainan tingkah laku seperti penyakit alzheimer dan autisme berhasil diidentifikasi, maka diagnosis dini berdasarkan DNA akan sangat memudahkan pengobatan dikemudian hari. Selain itu, dengan memahami mekanisme fisiologi dan biokimia suatu kelainan tingkah laku, maka diharapkan pencarian obat-obatan dan terapi untuk kelainan-kelainan tsb bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.

4. Bagaimana cara menilai sikap dan perilaku anak buah

Tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan juga sangat berkepentingan, dan aspek sikap dan perilaku merupakan kriteria yang harus dimiliki oleh calon karyawan/pimpinannya. Bahkan di beberapa perusahaan, telah dibentuk assessment center, yang bertugas antara lain untuk melakukan penilaian kompetensi melalui observasi perilaku. Kemampuan untuk menilai kompetensi ini juga harus dimiliki oleh para officer, untuk melakukan penilaian para anak buahnya.
Kompetensi dapat digambarkan seperti gunung es, yaitu: a) Kompetensi Teknis (ketampilan & pengetahuan), atau disebut hard skill, yang lebih mudah dilihat. b) Kompetensi perilaku atau disebut soft skill, yang lebih sulit dilihat. Umumnya kompetensi perilaku menjadi lebih penting daripada kompetensi teknis, untuk melakukan pekerjaan yang lebih kompleks. Hal ini disebabkan, dengan personal karakteristik (intensi yang baik), maka akan ditunjukkan oleh perilakunya, dan akan menghasilkan job performance yang lebih baik.
Prinsip dalam menilai perilaku, bahwa observasi perilaku adalah hanya pada perilaku yang sudah ditunjukkan anak buah dalam bekerja, dan bukan perilaku yang akan ditunjukkan, serta bukan ketrampilan/pengetahuan/prestasi kerja.
Perilaku anak buah bisa berupa: pemikiran, perkataan, atau tindakan yang dilakukan. Di dalam melakukan observasi perilaku bawahan, harus ada komitmen bahwa: a) Melakukan observasi secara obyektif. B) Mencatat perilaku dari hasil observasi secara akurat.c) Melakukan observasi selama periode penilaian secara kontinyu (bukan diakhir periode penilaian saja).
Apa yang dicatat?
Perilaku yang dicatat hanya yang terdapat pada bukti perilaku yang bersifat codable, yaitu bukti yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
· Pelakunya adalah anak buah yang akan dinilai
· Perilaku tersebut sudah ditunjukkan atau sudah terjadi (peristiwa masa lalu)
· Pada situasi yang spesifik (bukan generalisasi)
· Perilaku tersebut detil/terinci (tindakan, pemikiran, perkataan)
·Jelas intensi atau niat dari anak buah tersebut dalam melakukan perilaku dimaksud.

Dengan dilakukan observasi perilaku, diharapkan para karyawan melakukan tugasnya dengan lebih baik, sehingga akan memperoleh job performance yang lebih baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan produkstivitas kerja. Penilaian ini harus dilakukan secara transparan, sehingga baik atasan maupun anak buah mempunyai pemahaman yang sama, serta didasarkan atas bukti perilaku yang ada.


Bab Penutup
KESIMPULAN
Untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan bantuan berbagai macam ilmu pengetahuan. Ilmu fisiologi, mempelajari tingkah laku manusia, dengan menitik beratkan sifat-sifat yang khas dari organ-organ dan sel-sel yang ada dalam tubuh. Mengapa orang tua sering menganjurkan agar wanita hamil megusahakan ketenangan, dengan lebih banyak berdoa dan sholat, hal ini dimaksudkan agar sang bayi lahir selamat dan menjadi anak yang baik dalam kehidupan selanjutnya. Banyak juga yang mulai melatih diri dengan mendengarkan musik, dan wanita hamil harus selalu rajin membersihkan badan, yang hal-hal ini dipercaya dapat mempengaruhi sifat/karakteristik bayi nantinya. Dari tulisan Beben, B (2007), penelitian di bidang genetika saat ini tidak hanya tentang sejauh mana faktor genetik mempengaruhi tingkah laku tertentu, tetapi sudah sampai pada tahap identifikasi gen-gen yang mempengaruhinya. Selanjutnya Beben menjelaskan bahwa, bukan hanya masalah kecerdasan (IQ), tingkah laku atau sifat-sifat lainnya juga ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, seperti: kepribadian, kecanduan terhadap alkohol, neurotism/ketidakstabilan mental, penyakit kejiwaan (alzheimer, schizoprenia), dan lain-lain, yang hampir semuanya dipengaruhi oleh susunan DNA. Hasil penelitian terhadap tingkah laku selain dipengaruhi oleh lingkungan, juga dipengaruhi oleh faktor genetis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar